Siapa Di Balik Jaringan AKKBB ?

5 06 2008
Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)

 

Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.
Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.
Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.
Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:
  1. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
  2. National Integration Movement (IIM)
  3. The Wahid Institute
  4. Kontras
  5. LBH Jakarta
  6. Jaingan Islam Kampus (JIK
  7. Jaringan Islam Liberal (JIL)
  8. Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
  9. Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
  10. Institut Dian/Interfidei
  11. Masyarakat Dialog Antar Agama
  12. Komunitas Jatimulya
  13. eLSAM
  14. Lakpesdam NU
  15. YLBHI
  16. Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
  17. Lembaga Kajian Agama dan Jender
  18. Pusaka Padang
  19. Yayasan Tunas Muda Indonesia
  20. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
  21. Crisis Center GKI
  22. Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
  23. Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
  24. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
  25. Gerakan Ahmadiyah Indonesia
  26. Tim Pembela Kebebasan Beragama
  27. El Ai Em Ambon
  28. Fatayat NU
  29. Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
  30. Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
  31. Koalisi Perempuan Indonesia
  32. Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
  33. Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
  34. Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
  35. SHEEP Yogyakarta Indonesia
  36. Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
  37. Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
  38. LSM Adriani Poso
  39. PRKP Poso
  40. Komunitas Gereja Damai
  41. Komunitas Gereja Sukapura
  42. GAKTANA
  43. Wahana Kebangsaan
  44. Yayasan Tifa
  45. Komunitas Penghayat
  46. Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
  47. Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
  48. Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
  49. Crisis Center SAG Manado
  50. LK3 Banjarmasin
  51. Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
  52. Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
  53. Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
  54. PERCIK Salatiga
  55. Sumatera Cultural Institut Medan
  56. Muslim Institut Medan
  57. PUSHAM UII Yogyakarta
  58. Swabine Yasmine Flores-Ende
  59. Komunitas Peradaban Aceh
  60. Yayasan Jurnal Perempuan
  61. AJI Damai Yogyakarta
  62. Ashram Gandhi Puri Bali
  63. Gerakan Nurani Ibu
  64. Rumah Indonesia

Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari ‘The Hidden Agenda’ di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz).(sumber : smsplus.blogspot.com)





Kiai Tertangkap Nyabu di Gubuk

4 06 2008
Rabu, 4 Juni 2008 09:37 WIB
BANGKALAN, RABU-Fahad, pengasuh salah satu ponpes di Kecamatan Burneh, Bangkalan, tepergok polisi sedang pesta sabu di sebuah gubuk milik seorang bandar narkoba di Desa Rembah, Kecamatan Galis, Bangkalan, Minggu (1/6). Perbuatan terlarang ini bahkan diduga sudah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.
Direktur Reskoba Polda Jatim Kombes Pol Coki Manurung didamping Kepala Satserse II Ditreskoba Polda Jatim AKBP Djoko Hari Utomo, Selasa (3/6), menjelaskan, ditemukannya Fahad yang sedang menikmati serbuk setan itu berawal dari penggerebekan rumah milik Syaiful, yang telah lama diincar karena diduga sebagai tempat pesta sabu.
Saat digerebek sekitar pukul 12.30, di rumah itu sedang berlangsung pesta sabu. Lima orang berhasil diamankan sebagai tersangka, yakni Solikin (33), warga Kuanyar, Bangkalan; Hasan (28), pegawai Dinas Perhubungan Bangkalan; Samsul Arifin (35), warga Langkap, Burneh; Faisal Bahrudin (28), warga Langkap, Bangkalan; serta Syaiful, pemilik rumah sekaligus bandar.
Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa 2 timbangan elektrik, 2 alat isap sabu, 2 ponsel merek Samsung, 5 pak plastik pembungkus sabu, 1 dompet berisi 27 pipet kaca, 2 sendok sabu, serta sebuah pistol rakitan kaliber 9 mm berikut 3 buah amunisi. Polisi juga mengamankan enam paket sabu siap jual, masing-masing seberat 1,79 gram, 3,8 gram, 4,17 gram, 2,26 gram, 2,5 gram, dan 2,33 gram.
“Totalnya ada 16,63 gram sabu,” kata Coki Manurung didampingi AKBP Djoko Hari Utomo. Setelah mengamankan lima tersangka dan barang bukti, polisi kemudian menyisir dua gubuk yang berjarak 4 meter di sebelah rumah induk. Di salah satu kamar, polisi mengamankan H Fahad, pengasuh ponpes di Burneh; dan Samsul Arifin (30), tukang ojek asal Rembah, Bangkalan, yang mengantar sekaligus menemani Fahad nyabu. Dari keduanya, barang bukti yang diamankan adalah 0,2 gram sabu sisa pesta serta bong untuk mengisap sabu.
“Pak kiai yang masih mengenakan sarung dan berpeci putih itu nangis saat dibawa ke Polda. Katanya dia tak tahu apa-apa, hanya menjadi korban jebakan,” ujar seorang petugas yang meringkus Fahad.
Fahad kembali manangis saat polisi menyidiknya di Mapolda Jatim. Dia memohon agar tak dilibatkan dalam perkara ini, mengingat jumlah santri yang menjadi tanggung jawabnya cukup banyak. “Kalau sadar seperti itu, mestinya dia melarang ketika ada orang berpesta sabu, bukan malah ikut terlibat di dalamnya,” kata polisi itu.
Sementara dari gubuk lainnya, budak narkoba yang diamankan petugas adalah Achmad Darmawan (43), PNS di Kecamatan Pangeranan, serta Suryadi, warga Jalan Cenderawasih, Bangkalan. Barang bukti yang berhasil ditemukan adalah 4 bungkus sabu sisa pesta seberat 0,8 gram serta alat untuk mengonsumsi.
Namun, penggerebekan pada siang itu tak berlangsung mulus. Sebelum digelandang ke mapolda, para tersangka yang berhasil diringkus dikumpulkan di rumah induk milik Syaiful. Saat itulah sejumlah orang melempari polisi yang sedang berada di dalam rumah dengan batu. Kekacauan itu kemudian dimanfaatkan Syaiful untuk melarikan diri dengan memecah kaca jendela. “Dia sekarang menjadi DPO (daftar pencarian orang atau buron) kami,” ujar Coki Manurung.
Untuk mengevakuasi para tersangka, polisi menurunkan satu pleton Dalmas Polres Bangkalan, dibantu anggota reskrim setempat. Tertangkapnya pengasuh ponpes ini menambah daftar deretan budak narkoba di lingkungan pesantren di Jatim. Pada April lalu, Ditreskoba Polda Jatim meringkus Hakim, seorang pengedar sabu di salah satu ponpes di Malang. Dari tangannya disita 1,3 gram sabu dan uang Rp 1.350.000 hasil penjualan narkoba.
Selain itu, buser Reskoba Polda Jatim menciduk Iwan Fathkur Rachman (32), seorang santri yang baru 6 bulan menjadi siswa pondok pesantren di Cerme, Gresik. Dari pengeledahan Satuan I Ditreskoba Polda Jatim di lemari kamar santri ini ditemukan seperangkat alat isap sabu. Karenanya, warga Mojokerto ini tak berkutik saat digelandang ke kantor polisi. (www.kompas.com)




Belanda Warisi Utang

25 02 2008

Minggu, 24 Februari 2008
Belanda Warisi Utang Rp 44 Triliun

 

Jakarta,- Ini fakta menarik tentang warisan kolonial Belanda yang diterima Indonesia. Setelah merdeka, ternyata Indonesia mewarisi utang pemerintahan Hindia Belanda USD 4,8 miliar. Utang sekitar Rp 44 triliun itu baru lunas dicicil pada 2003 lalu.

Hal itu diungkapkan Ketua Pusat Studi Kebijakan Ekonomi UGM Revrisond Baswir. Utang Hindia Belanda tersebut diwariskan berdasar Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Dalam konferensi itu, Indonesia memang memperoleh kedaulatan.
”Sluruh utang Hindia Belanda USD 4,8 miliar diwariskan pada pemerintah Indonesia. Jadi, Indonesia memang berutang sejak dalam kandungan,” ujar Soni, panggilan akrab Revrisond.
Fakta tersebut diketahui Soni dari transkrip dan rekaman persidangan di Konferensi Meja Bundar yang diperolehnya. Hal lain yang terungkap dari persidangan tersebut, delegasi Indonesia juga sepakat mematuhi aturan Organisasi Moneter Internasional (IMF) meski Indonesia ketika itu belum menjadi anggota PBB. Soni menjelaskan, pada 1973 utang Indonesia itu direstrukturisasi 35 tahun dan baru lunas pada 2003.
”Jadi, sebenarnya kita baru merdeka dari kolonialisme Belanda pada 2003,’’ katanya. Ternyata, Belanda tak hanya mengisap kekiyaan bangsa Indonesia, tapi juga meninggalkan beban utang yang sangat besar. (noe/tof) www.pontianakpost.com