NILAI DAN KEKUATAN KEBAIKAN TERLETAK PADA TERBENTUKNYA KEBAIKAN

Posted: 9 August 2007 in Kisah
Di sebuah kamar ada seorang istri sedang beribadah dengan khusyu. Sementara di ruang tengah rumahnya sekelompok laki-laki sedang minum-minum minuman keras. Terlihat sangat kontrakdiktif di satu ruang ada yang sedang asyik beribadah, di ruang lain rumah itu beberapa orang sedang bermaksiat. Keadaan suami-istri keluarga ini sudah diketahui banyak orang termasuk apa yang mereka lakukan.Suatu watku istrinya menegur terhadap suaminya agar tidak meminum minumam keras karena agama melarangnya. Namun hal itu tidak diindahkan oleh suaminya. Selang beberapa tahun, suami istri itu meninggal dunia, dan rumahnya dibeli oleh Harun Al-Rasyid, karena memang rumah itu bagus.
Pada suatu malam Harun Al-Rasyid solat di tempat yang selalu dipakai beribadah oleh istri pemilik rumah terdahulu. Setelah solat, Harun Al-Rasyid berdo’a dan bermunajat sebagaimana biasa dia lakukan. Saat itu dia merasa sangat nyaman berada di kamar itu, tiba-tiba tercium bau wewangian yang sangat harum, yang belum pernah dia mencium wewangian seharum itu. Setelah itu Harun Al-Rasyid tertidur di kamar itu dan bermimpi.
Dalam mimpinya dia melihat suami istri pemilik rumah itu berada di tengah taman surga sedang bersenda guarau sangat mesra. Dia sangat heran melihat sumainya berada di surga, karena semua orang tahu bahwa dia suka minum minuman keras dan suka maksiat. Lalu Harun bertanya pada istrinya : Wahai fulanah ! aku tahu suamimu adalah orang yang suka berbuat maksiat, tetapi dengan apa dia bisa bersamamu berada di surga ini ?. Dia menjawab : Betul, suamiku adalah orang yang suka minum minuman keras, senang bermaksiat, tetapi tahukah engkau wahai Harun Al-Rasyid, bahwa aku mempunyai kecintaan kepada Allah sehingga aku senang beribadah adalah didikan suamiku, sehingga ketika aku melihat suamiku diseret ke neraka, aku tidak mau masuk surga, dan Allah membolehkan aku memberi syafa’at pada suamiku. Dia selalu melaksanakan kewajibannya sebagai suami dengan susah payah, dan aku menghargai kesusahannya. Dia maksiat karena kebodohannya, bukan karena keinginannya, dan di akhir hidupnya dia menyesali perbuatannya. Dan yang penting dia sangat mencintai aku dan anak-anakku dengan tulus !.

Harun Al-Rasyid terbangun dari tidurnya dan langsung menghampiri istrinya, seraya berkata : Wahai istriku, adakah aku pernah mendidikmu untuk berbakti dan mencintai Allah dan Rosul-Nya sejak engkau aku peristri, dan adakah kecintaanku padamu kau rasakan, dan adakah aku telah melaksanakan kewajibanku sebagai suami, aku ingin kau memberi syafa’at kelak di akhirat ?. Sejak saat itu Harun Al-Rasyid dalam da’wahnya sering bercerita mimpinya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s