JIWA-JIWA SURGA

Posted: 25 June 2008 in hikmah
Merekalah jiwa-jiwa Surga
Yang jihad telah bersemayam dalam kalbunya
Yang syahid telah jadi cita tertingginya

Bimbang mereka memilih anatara dua, jihad dijalan Allah atau hasil bumi melimpah yang sebentar lagi di panennya. Panggilan jihad sang khalifah benar-benar membuat ragu-ragu. yang mana yang harus dipilih sementara ada yang harus dikorbankan.

Lelah berfikir antara dua kepentingan yang beradu, jiwa-jiwa Surga tertidur ditengah ladang gandumnya, sementara esok genderang jihad melawan kaum kuffar ditabuh.(bersambung)
Abu Hanifah*
Diambil dari :
Majalah Al-Izzah N0. 7 / th. 1, 30 juli 2000 M, hal. 32 – 33
Majalah Al-Izzah No. 8 / th. 1, 30 Agustus 2000 M, hal. 32 – 33

 

“Jika Jihad yang kupilih, tak ada lagi makanan untuk ibu dan adik tersayang, sawah lading yang kuusahakan sekian bulan pun akan lenyap sia-sia, ah gandum yang ranum, troli-troli yang siap mengankut ke kota, sambutan ramah saudagar yang menunggu di pintu tokonya, dan ya….hadiah manis untuk ibu tercinta. Oh, kenapa lagi panggilan itu datang seketika?

Jika sawah ladang yang kupilih, kapankah kudapat kesempatan berjuang bersama, kapankah mampu kusahut panggilan Rasul SAW mulia, kapankah perjumpaan dengan Rabb yang Rahman dapat kurajut kembali.

Ah…kilatan pedang yang bercahaya, deru kuda yang dipacu, dentingan tombak yang melesat, panah yang mengarah cepat, debu yang renyah, keringat yang bercahaya, darah yang harum.

Oh…sungguh rindu bertemu dengan penghulu syuhada, Hamzah bin Abdul Muthallib. Kenapa harus panen gadum secepat ini?” suara batin jiwa-jiwa Surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s