JIWA – JIWA SURGA VI (the end)

Posted: 13 October 2008 in hikmah

Merekalah Jiwa-jiwa Surga
Yang dunia tunduk dibawah semangat dan cintanya
Yang harta luluh, lumpuh, bersimpuh, dibawah singgasana keagungannya

Ditengahnya mereka mendapati kain transparan putih bergelombang yang bergoyang ditiup angin segar beraroma kesturi. Panjang, luas membentang. Jiwa Syurga mendekati kain putih itu dan melangkah hati-hati, menginjakkan kainnya.

Dalam hati, jiwa surga berkata,” ditwngahnya pasti ada istriku, pasti ada “ainul Mardhiyah”

Seakan tahu isi hati, sang utusan berujar “ benar ya Syabbab, melangkahlah, temui istrimu. Temui “Ainul Mardhiyah”.

Berdebar jantung Jiwa Syuga. Debarannya semakin kencang semakin ia melangkah jauh. Namun, perjalanan jauh itu tak membuatnya lelah bahkan terasa makin ringan langkahnya.

Sampailah ia ditengah-tengah gelombang kain transparan yang tak lain adalah pakaian seorang wanita yang sedang membelakangi jiwa Syurga. Cahaya menerangi sekelilingnya, dan cantiknya sungguh tak pernah terbayangkan, jauh melebihi bidadari-bidadari yang disiapkan untuk dirinya.

Dengan memeberanikan diri, jiwa syuga melangkah mendekati. Debaran jantungnya sangat cepat, bak kuda yang sedang dipacu penunggangnya mengejar musuh.

“Assalamu’alaikum…” sapa jiwa Syurga dengan segenap tenaganya.

Wa’alaikumussalam Warahmatullah…”Jawab wanita di hadapannya merdu laksana seruling cinta ditengah padang syurga. Wanita itu membalikkan wajahnya dan jiwa Syurga itu jatuh tak sanggup menahan gemetar badannya. Wajahnya penuh cahaya berkilauan kristal-kristal cahaya meresuk dalam hatinya. Masuk jauh melintasi sanubari.

“Andakah ‘Ainul Mardhiyah’?” tanya jiwa Syuga setelah bangkit dan mengumpilkan tenaganya
“Benar”
“Andakah istri yang dipersiapkan untukku ?”
“Siapa bilang?, aku belum bersuami”
“Lalu, bagaimana caranya untuk mendapatkanmu ?”
“Aku pun sama dengan wanita di dunia yang membutuhkan mahar ?”
“Apa maharnya ?”
“Engkau berjihad di jalan Allah, dan syahid di medan juang”

Jiwa Syurga segera terbangun dari tidurnya. Berlari. Mengambil pedang. Mengambil kudanya. Menjawab panggilan Khalifah. Memacu kudanyadan berteriak menyeru “Allaaaaaahu Akbar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s